Sahabatku kini Rumahnya Sendiri di Petak BLAD No. 124, Pondok Rangon

Catatan- catatan dalam mengenang seorang sahabat karib Mula Harahap. Catatan ke 7


Pernah suatu kali dalam perjalanan dengannya menuju ke sebuah toko buku yang pernah ada di samping Gedung Sarinah di Jalan Thamrin Jakarta ( toko buku tersebut bernama Q Book), kita berbincang tentang burung. Entahlah kenapa kita mengambil topik perbincangan seputar perburungan. Barangkali pada saat itu dalam sekelebat bayangan mata melihat seseorang anak berkendaraan sepeda sedang membonceng sebuah sangkar burung yang berisi merpati aduan yang hendak dilepas ke suatu tempat.
"Berapa kira-kira anak itu mendapat bayaran untuk melepaskan merpati-merpati itu?" Tanyaku.
"Paling nggoceng!"
"Masih untung. Tapi kalau dia sekedar disuruh oleh orangtuanya untuk melepaskannya?"
"Merdeka!"
Kita tertawa lepas berdua.
"Burung merpati adalah burung yang paling beruntung yang bisa hidup bersama-sama dengan manusia selain ayam. Walau toh pada akhirnya ada merpati yang nasibnya tak bedanya dengan ayam yang berakhir di penggorengan." tambahnya.

"Merpati dipelihara. Diberi makan jagung. Dibuatkan rumah. Di jaga kesehatan dan keamanannya di malam hari dari ancaman tikus. Tidak hanya itu. Merpati diberikan kebebasan untuk terbang lepas, mengarungi angkasa langit biru, terbang tinggi sesukanya, serta pulang membawa pasangannya yang sebenarnya pemiliknya adalah lain orang. Itu salah satu keuntungan mereka memelihara merpati. Meskipun kemudian merpati juga memberikan persoalan dengan kotorannya yang jatuh diatap-atap genting tetangga serta jemuran tanpa pelindung atap.
Dibandingkan dengan burung peliharaan lain, walau kesehatan dan makanannya terjamin, tetapi kebebasannya tak sebanding dengan kepuasan yang diberikannya melalui keindahan bulu dan kicauannya kepada pemiliknya. Yang terkadang kemudian bisa menjualnya hingga ratusan juta rupiah."
Itu salah satu perbincangan kita dalam membahas tentang burung. Tapi kita tahu bahwa merpati sudah seperti ayam yang segala kebutuhannya sudah bergantung kepada manusia. Mereka kini menjadi binatang-binatang yang rapuh. Yang tidak lagi bisa bertahan bila jauh dari kehidupan rumah dan kampung. Mereka burung yang sudah tidak punya kemampuan membangun sarang untuk tempat tinggalnya sendiri tanpa campur tangan manusia.
"Merpati kalah sama burung gereja. Meski koloninya berada pada komunitas manusia. Yang bersarang di lubang-lubang atap genting. Yang penting tak terjangkau dari tangan dan perhatian anak-anak. Burung-burung itu akan hidup aman-aman saja. Yang mencari makan cukup dengan mengais sisa-sisa nasi kering yang terbuang di halaman rumah atau nasi-nasi aking yang tengah dijemur di atas genting. Tapi mereka punya kebebasan dan kemampuan untuk membangun sarang dan meneruskan generasinya."
Dia tertawa demikian pula aku.
"Kau beruntung masih punya rumah." ujarnya. "Aku kalah sama burung."
"Ah, ya enggak. Kita masih punya burung sedangkan burung tak punya burung."
"Sialan kau! Berapa dalam setahun burung-burung itu membangun sarang?"
"Tergantung seberapa sering burung itu kawin dan bertelur. Setelah bertelur. Lalu mengerami. Telurnya menetas. Kemudian membesarkan anak-anaknya sampai mampu terbang sendiri dan mencari makan sendiri. Sampai kemudian induk dan anak berpisah, masing-masing mencari kehidupan baru dengan membuat rumahnya yang baru. Kawin. Bertelur. Terus berputar seperti itu."
"Sementara kita manusia. Untuk mendapatkan apalagi memiliki rumah sendiri bukan perkara gampang. Dulu aku kawin dan tinggal di Rawamangun. Punya anak. Lalu pindah ke Cempaka Putih.Terusir. Pindah lagi ke Sumur Batu..."
Dia menertawakan dirinya sendiri. Karena memang tak berpikiran memiliki punya sendiri. Harapannya hanya pingin punya rumah di daerah Yogjakarta atau Magelang.
"Atau di Malang atau di Batu seperti kau. Tinggal di desa, menulis, punya akses dengan dunia luar. Rumah kecil sederhana. Memelihara tanaman yang bisa kita siram setiap pagi dan sore. Memberi makan ayam dan kambing. Menulis sambil memperhatikan tanaman-tanaman kita dari balik jendela kaca. Ah! Betapa nyamannya. Lalu kita ada tempat untuk terima kawan untuk berdiskusi, menginap sesuka-sukanya. Memberikan pikiran-pikiran kita kepada bangsa ini melalui tulisan-tulisan di dunia maya. Memberikan motivasi dan pelatihan kepada anak-anak muda untuk bisa berkarya dan berkreasi."
Itulah sebagian dari angan-angan seorang Mula bila memiliki rumah sendiri. Tetapi sesungguhnya memiliki rumah baginya tidak terlalu penting. Sungguh kontradiktif dengan apa yang selalu dilakukannya. Dia lebih mendahulukan kepentingan orang lain untuk bisa memiliki rumah, khususnya mereka yang dekat dan terlibat dengan aktifitasnya dalam hal untuk memiliki rumah sendiri. Setidaknya mereka bisa didorongnya bisa memiliki rumah dengan cara mengambil rumah KPR.
"Apa sih rumah itu? Rumah paling sebagai tempat persinggahan sementara. Membesarkan anak-anak. Kemudian mereka pergi membangun keluarga. Memiliki rumah sendiri dan melanjutkan hidupnya. Sementara kita dengan isteri hanya meninggalinya sampai tua renta. Selanjutnya kita tinggalkan. Yang tak akan menjadi apa-apa. Paling-paling rumah akan menimbulkan persoalan menjadi bahan perebutan, percecokan. Banyak sekali persoalan keluarga yang berantam gara-gara harta warisan. Anak-anaknya sebenarnya tak bermasalah, tetapi pendamping-pendamping, belum lagi pengaruh pihak-pihak lain, yang membuat makna kekeluargaan menjadi hilang."
Jalan yang kita lalui bersama saat berangkat dan pulang menuju dan dari toko buku Q Book yang sudah tidak ada lagi, adalah jalan yang sekian tahun kemudian saya lalui bersamanya. Kalau dulu kulalui bersamanya dengan mengendarai mobil panther hitamnya.
Sekian tahun kemudian tepatnya pada tanggal 16 September dan 17 September tahun 2010 adalah jalan yang kulalui bersamanya. Kali ini kuantarkan dia dengan mobil jenasah. Yang berangkat dari rumah menuju rumah duka di RSPAD Gatot Subroto dengan tubuh terbujur kain kafan. Dan keesokannya dari rumah duka tersebut kuantarkan dirinya kembali dalam mobil berwarna putih, dan berada dalam peti berpelitur coklat yang terlapisi kain satin putih berkilap, menuju rumahnya sendiri di areal seluas 80 hektar. Di blok atau Petak BLAD nomer 124, Pondok Rangon.
Bangunan rumahnya tak seberapa luas. Hanya berukuran satu kali dua meter. Dengan bacaan pada selapis kayu berwarna putih berbentuk salib, sebagai pertanda pemiliknya, yang bertuliskan warna hitam bernama Armyn Mulauli Harahap. Yang menempatinya dengan damai dalam peristirahatannya yang abadi.