Jatuh Tempo Sang Penguasa.

2014 saat jatuh tempo SBY melunasi untuk hutang-hutang janjinya mensejahterakan rakyat dan memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya sesuai janjinya saat kampanye. Bila tidak, apa yang diutarakan di Ritz Carlton adalah bagian isu pengalihan terhadap persoalan yang tidak bisa diatasinya.
Kenapa sampai timbul kesimpulan demikian. Seharusnya tidak pada tempatnya SBY bicara dalam forum itu bila tidak memiliki tendensi tersembunyi. Kalau memang dia diberi kesempatan sebatas lecture, seharusnya bisa membatasi diri bicara dalam kontek umum menyangkut kepemimpinan, tanpa mengkaitkan dengan kepentingan individu yang terkait dengan garis politiknya. Bila ingin menyampaikan untuk menepiskan isu atau rumor yang berkaitan dengan dirinya maupun keluarganya terkaitan suksesi pilpres di 2014. Seyogyanya, berbicara atas nama partai yang dia pimpin maupun yang dia bentuk yang berhasil mengusungnya menjadi presiden selama dua periode. Alangkah lebih etis bila disampaikan secara resmi melalui juru bicara partai, dalam hal ini Partai Demokrat. Sehingga masyarakat umum atau publik menjadi tahu dan pasti bahwa itu merupakan sikap resmi partai dan sikap resmi yang bersangkutan dalam sisi politik.

Cinta Si Adang pada Si Nunun.

Saya mencoba menangkap pikiran yang ada dalam benak Adang Dorojatun ketika menjawab pertanyaan wartawan seputar isterinya Nunun Nurbaeti. Walau saya mengamini saat dia mengatakan bahwa sebagai suami yang sangat mencintai isteri, harus membela mati-matian isterinya, terlepas dari tanggung jawab moralnya sebagai anggota dewan yang terhormat dari partai yang mengklaim sebagai partai berbasis menjunjung moralitas yang bersih.
Tetapi yang membuat saya tidak mengerti dan bertanya. Apakah sikapnya itu benar-benar sekedar bertujuan untuk melindungi sang isteri tercinta agar jangan sampai dijebloskan ke prodeo? Saya meragukan dan  tidak yakin. Jangan-jangan apa yang dilakukan sebenarnya malah sebaliknya. Membiarkan isterinya sakit dan terkatung-katung menggelandang di negeri orang, tidak mencerminkan seorang suami yang penuh perhatian terhadap isteri tercinta. Kondisi seperti itu justru menimbulkan dugaan, seperti mengorbankan isterinya untuk menutupi sesuatu yang patut diduga apa yang dilakukan isterinya sesungguhnya menutupi apa yang seharusnya jadi tanggungjawab Adang sendiri yang terkait dengan kebijakan partainya?

Kidung Birahi Garengpung di Musim Pancaroba.

Pada bulan Agustus. Udara siang hari biasanya terik sekali. Apalagi udara di perkotaan, disamping terik tapi juga pengap. Udara segar sulit didapat bila tidak berada di tengah taman atau hutan kota. Kebisingan serta aroma asap kendaraan membuat nafas dan paru-paru terasa berat. Menimbulkan hasrat untuk mencari tempat berudara sejuk dan segar, seperti keluar kota, kepedesaan. Meski musim kemarau yang melanda juga terasa sama di daerah pegunungan. Namun suasananya yang damai, dengan kesunyian alamnya, serta angin yang bertiup, masih mampu memberikan kesegaran paru-paru, sehingga oksigen yang terserap dalam darah, bisa memberi suntikan kesegaran bagi segenap bagian tubuh.
Memasuki bulan Agustus. Bulan puncak musim kering, memasuki musim penghujan. Adalah saat dimana nimfa (kepompong berjalan), bahasa jawanya uwel-uwel atau jungkruk - bagian dari metamorfosis seekor serangga yang biasa disebut garengpung (cicada), mulai keluar dari persembunyiannya di dalam tanah, setelah terkubur kurang lebih satu hingga dua tahun lamanya, dan bertahan hidup dari akar pohon inangnya.

Namanya Burung Gereja

Saat ini khususnya di wilayah perkotaan, sulit menjumpai keberadaan satwa-satwa liar seperti burung, kecuali di taman-taman kota yang terjaga dan terlindungi. Tetapi setidaknya masih ada jenis burung yang dengan mudah masih bisa dilihat sehari-hari di permukiman, seperti di halaman rumah, atau di tembok teras rumah. Jenis burung itu disebut burung gereja. Keberadaan burung ini mengalahkan keberadaan burung merpati. Yang selama ini seakan burung merpati yang bisa berdamai dalam kehidupan sehari-hari manusia, karena bisa dipelihara dengan dilepas tanpa harus dikurung. Tetapi sebagai penyandang predikat simbol perdamaian dan kesetiaan. Ironinya, burung merpati kerap menimbulkan masalah, karena tidak berdamai dalam lingkungan kehidupan manusia, lantaran kotorannya yang menimpa jemuran, dan menyebar di genting rumah, sering menciptakan disharmoni hubungan antar tetangga yang terganggu dengan beraknya yang berada dimana-mana. Belum lagi suara dekuran pejantan yang sedang birahi yang tak akan berhenti sampai si betina menyerah, suaranya berisik dan mengganggu. Belum lagi burung merpati kini dimanfaatkan sebagai alat judi adu pacu. Walau toh pada akhirnya merpati-merpati sebagian ada yang berakhir di penggorengan.

Catatan Buat KPK Bagi Koruptor dan Mafia Peradilan

Keuangan yang maha esa
Persekongkolan bangsat Indonesia
Kemanusiaan yang tak adil dan biadab
Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijakan para bangsat dalam permusyawaratan perwakilan
Keadilan bagi seluruh bangsat Indonesia

Hore Quo Vadis Kelulusan!

Ujian pun usai. Berapa pun danem atau nilai yang didapat tak penting. Yang penting lulus. Sebab, kelulusan ibarat terlepas dari berkati-kati beban, walau sesungguhnya beban itu tak benar-benar lepas. Bagi lulusan sekolah menengah pertama masih harus berjuang untuk mendapatkan sekolah baru. Bagi mereka dari kalangan berada, sudah barangtentu orangtuanya akan memperjuangkan untuk mendapatkan sekolah favourit, dengan segala upaya bila perlu menyuap atau 'menitipkan' ke panitia penerimaan murid. Bagi mereka yang hidup dari kalangan pendapatan pas-pasan, syukur-syukur punya nilai tinggi, sehingga bisa berkompentisi memperebutkan ketersediaan bangku yang jumlahnya terbatas. Bila tidak, masih bisa bersyukur dan berlega hati diterima di sekolah - walau tidak favorit - atau sekolah lain yang kental dengan aroma pungutan, meski subsidi pendidikan sudah dianggarkan, menepis slogan pendidikan gratis dari tingkatan sekolah dasar hingga sekolah menengah. Kewajiban orangtua memang memperjuangkan agar anaknya bisa melanjutkan sekolah. Mereka adalah generasi penerus keluarga dan bangsa.
Bagi kalangan siswa. Kelulusan identik dengan eporia. Sebuah momen peristiwa yang harus dirayakan. Peristiwa yang telah ditunggu selama tiga tahun. Masa kelulusan adalah saatnya mengorbankan baju seragam yang sebelumnya begitu dijaga jangan robek sedikit pun, apalagi ternoda, bila tidak ingin kena resiko sanksi disiplin dari pihak sekolah.

Wedus Gembel Itu Kini Bernama Simon

Wedus gembel. Wedus gimbal. Istilah itu tak ada bedanya. Wedus ya wedus, binatang yang dimaksudkan sebagai kambing jenis biri-biri. Ciri dari kambing biri-biri terletak pada bulunya yang tebal, keriting, berwarna putih. Kelebihan jenis wedus ini dengan bulunya yang bisa dicukur lalu dirajut menjadi benang yang disebut sebagai benang wol.
Sedang gembel atau gimbal adalah sebutan untuk rambut yang kusut, tebal dan kumal karena tak pernah dibersihkan apalagi disisir dengan sikat. Keadaan seperti itu biasa terlihat pada bulu kambing biri-biri. Itu sebabnya kenapa awan pekat yang menyembur dari kawah gunung Merapi disebut sebagai wedus gembel. Karena wujudnya menggumpal, putih keabu-abuan, dan melinting pekat seperti bulu kambing biri-biri yang tak pernah dimandikan.
Tetapi bukan perihal 'wedus gembel' Merapi yang hendak kami ceritakan. Melainkan ceritanya benar-benar mengenai seekor wedus yang benar-benar gembel alias gimbal bulu tubuhnya.

Pada Sebuah Kereta Ekonomi

Ada kereta eksekutif, bisnis dan ekonomi. Pengklasifikasian tersebut sudah tentu berdasarkan tarif ongkos yang dikenakannya. Kita tinggal memilih. Mau naik yang eksekutif, bisnis atau yang ekonomi. Untuk yang eksekutif sudah tentu kita akan mendapatkan suasana kenyamanan selama dalam perjalanan. Gerbong dengan tempat duduk yang empuk, udara sejuk ber-ac, dilayani pramugari, tersedia ruang tunggu di peron sebelum memasuki kereta. Untuk jenis bisnis kenyamanannya jauh diatas yang ekonomi dan juga jauh dari yang eksekutif, berada di antaranya walau dalam perjalanan suasananya seperti pasar malam karena pedagang asongan dibiarkan bebas berkeliaran. Dan untuk yang bertarif ekonomi. Jangan ditanya lagi kalau segala kesumpekan, segala ketidaknyamanan mengiringi sepanjang perjalanan.


Sebelah kiri kereta berlokomotip uap, sebelah kanan jenis lokomotip bermesin diesel.

Mari kita nikmati perjalanan bersama kereta ekonomi. Namanya ekonomi, jangan berharap untuk bisa mendapatkan segala sesuatunya terasa nyaman. Kita tidak akan mendapatkan sambutan pramugari bila hendak menaiki pintu kereta. Atau kita juga tidak akan bisa menikmati ruang tunggu yang berpenyejuk udara. Ketidak nyamanan menaiki kereta ekonomi sudah terasa sejak kita membaca pemberitahuan bahwa tempat duduk bebas bila dalam suasana hari libur, khususnya di hari lebaran. Artinya, penumpang bebas memilih tempat duduk. Penumpang bebas menyerbu berebut untuk saling mendahului memasuki pintu gerbong kereta. Penumpang bebas menempati kamar kecil yang ada dalam kereta api bila tidak mendapatkan tempat di dalam gerbong.
Untuk memperoleh karcis pun, jangan berharap bisa mudah mendapatkan tiket pesanan melalui jalur online. Entah karena untuk tiket ekonomi tidak dijual dengan sistem online, ataukah sistem online untuk tiket tarif ekonomi mengalami trouble bila dilakukan pemesanan dengan sistem itu? Yang jelas untuk bisnis dan eksekutif seolah dimudahkan untuk mendapatkannya walau sekali waktu dijumpai error.

Sepur Lempung

Naik kereta api tut tut tut! Siapa sih yang tidak pernah mendengar lagu tersebut. Semenjak kecil kita telah diajarkan oleh ibu guru untuk menyanyikan lagu itu. Lagu itu biasanya dinyanyikan bersama-sama teman-teman bila diajak ibu guru berjalan-jalan mengelilingi desa. Atau bila kita masih balita dan belum dimasukkan ke sekolah taman kanak-kanak. Ibunda kita tentu yang kerap menyanyikannya untuk menyenangkan hati kita bila sedang ngambek, yang membuat kita menjadi terbiasa dan hafal, dan kemudian membayangkan bahwa naik kereta api itu menyenangkan. Bagi anak-anak tentu saja selalu berangan-angan bagaimana rasanya naik sebuah kereta api. Melihat pemandangan gunung dan sawah di sepanjang perjalanan. Berhenti sebentar di setiap stasiun yang disinggahi.
Mengenal kereta api tempo dulu, tidak seperti jenis kereta api di masa kini yang dikendalikan oleh sebuah mesin berbahan bakar minyak solar, atau listrik.
Kereta api ketika aku masih kecil, merupakan jenis kereta api yang digerakkan oleh tenaga uap. Bagian lokomotip dilengkapi sebuah ketel besar berbentuk silinder, tempat air dimasak hingga mendidih dan beruap, akibat uap panas yang terkungkung dalam ketel raksasa dan tidak bisa keluar, akan menghasilkan tekanan yang selanjutkan digunakan sebagai pendorong agar roda bisa berputar.



Diameter roda kereta api pada bagian lokomotip ketika itu sangat besar, dan tidak padat seperti sebuah piringan, melainkan ada kisi-kisi seperti halnya roda sepeda. Antara roda satu dengan yang lain dihubungkan oleh sebatang besi yang berfungsi sebagai poros penyelaras gerak.
Sementara uap yang berkelebihan akan dikeluarkan secara otomatis melalui safety valve atau katup pengaman agar tekanan udara dalam ketel tetap stabil bila kereta api berhenti. Suara yang keluar dari saluran pembuangan berupa uap udara panas, yang menimbulkan suara jesss! Itulah kenapa kita menyebutkan jalannya kereta api mengacu pada suara yang dikeluarkannya, yang berbunyi jes! jes! jes! jes! Tut.. tut.. tuuut! Bunyi peluit yang dihasilkan dari tekanan uap air yang disalurkan melalui pipa kecil. Menimbulkan suara melengking tinggi dan panjang, yang bisa terdengar hingga radius berkilo-kilometer.