Catatan- catatan dalam mengenang seorang sahabat karib Mula Harahap. Catatan ke 1

Medio September 2010 adalah malam yang tidak pernah terbersit dalam benak akan menjadi malam perbincangan terakhir duduk berdua bersamanya di kamarku, berdiskusi panjang lebar sebagaimana bila berkumpul di waktu-waktu sebelumnya dalam kebersamaan.
Masih segar dalam suasana hati saya akan suasana hatinya (alm. Mula Harahap) pada saat sedang berbicara. Pertama datang hingga kemudian meninggalkan kamarku, wajahnya diliputi keceriaan, walau segala apa yang dikatakannya selalu kembali berputar kepada keluhan-keluhan yang belakangan ini kerap dirasakannya. Keceriaan pada wajahnya kupikir hanya sekedar menutupi kegundahan hatinya. Dan baru kusadari kemudian bahwa itu adalah wajah yang murni mencerminkan dari wajah yang hendak 'pergi'. Tanpa beban.
Dia katakan habis kontrol ke dokter. Terutama yang menyangkut kondisi fisiknya.
Belakangan ini dia sudah memastikan, bahwa apa yang dirasakannya merupakan dampak dari ketidakberesan yang terjadi pada jantungnya. Pada saat itu kucoba menyembunyikan rasa keterkejutanku saat mendengarnya. Memang akhir-akhir ini dia lebih sering membicarakan tentang penyakitnya, lalu mencoba menghubungkan pada pengalaman kawan-kawan yang mengalami hal yang sama. Kupikir, dia hanya mencoba memancingku untuk mencari tahu bagaimana mengatasinya.
Belum lama dia juga coba ceritakan sedang menjalani terapi memakan buah pepaya sebelum makan nasi. Apa yang dilakukannya sekedar menuruti nasihat seseorang kawan yang juga pernah mengalami persoalan penyakit seperti yang dialaminya.
Kala itu aku hanya mendengarkan dengan seksama tanpa berkomentar. Bahwa dia tengah menjalani terapi herbal untuk mengatasi rasa sakitnya. Walau kemudian dikatakannya tak membawa perubahan. Kesimpulan dokternya setelah dia melakukan chek up yang menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres dengan saluran nadi ke jantungnya, yang masih menurut kesimpulan dokternya, bahwa penyakitnya itu hanya bisa diatasi dengan melakukan operasi.
Sambil tertawa seraya mengatakan.
"Bayangkan saja Fathudin (yang juga kawan saya, dosen dan purek UNAS) saja hanya pasang ring saja butuh biaya empat puluh juta rupiah lebih. Itu beberapa tahun lalu. Sekarang jatuhnya sekitar tujuh puluh juta rupiah barangkali lebih. Uang segitu mendingan buat ninggalin isteri saya."
Saya mencoba menetralisir dengan mengatakan.